No comments yet

Renungan Berhikmatlah dalam bertindak

Amsal 22:22-23

Pada umumnya kita memahami tindakan sebagai sesuatu yang bersifat spontan, padahal sebenarnya ada mekanisme berpikir di balik lahirnya sebuah tindakan. Dari judul renungan pagi ini jelas terlihat betapa pentingnya mekanisme berpikir dalam kerangka kebijaksanaan. Mekanisme berpikir yang bijaksana akan memampukan seseorang bertindak secara bijaksana pula. Dengan demikian, tindakan bijaksana hanya akan lahir dari berpikir bijak atau dalam istilah kitab Amsal adalah berhikmat.

Hikmat menjadi sesuatu yang bersifat superior dalam kitab Amsal. Ia menjadi begitu superiornya hanya apabila didasari oleh takut akan Tuhan (1:7). Ketika kita memahami istilah hikmat atau bijaksana dalam kitab Amsal, maka kita harus memikirkannya dalam konteks takut akan Tuhan, sehingga hikmat atau bijaksana bukanlah hanya terbatas pada kepintaran, kecakapan, atau skill seseorang.

Sejarah telah mengakui betapa berhikmatnya Salomo, bukan hanya karena ialah yang menulis kitab Amsal ini melainkan juga karena sikapnya yang takut akan Tuhan. Memang ada bagian dalam hidupnya yang jatuh dalam penyembahan berhala bersama dengan para istri-istri dan gundik-gundiknya, namun ia toh tetap kembali kepada Tuhan sebagai bagian dari kesadaran takut akan Tuhan. Hal itu Nampak dalam keseluruhan semangat (spirit) dari kitab Amsal.

Bagian renungan pagi ini merupakan salah satu bagian dari hikmat-hikmat tersebut. Isu penting yang coba dilihat dalam bagian ini adalah rupanya ada beberapa orang yang dengan sengaja dan sadar telah bertindak semena-mena terhadap mereka yang lemah, baik secara politis maupun secara hak-hak warga Negara. Dasar pemikiran orang-orang tersebut bahwa Tuhan hanya berkuasa untuk hal-hal yang bersifat spiritual, sedangkan hal-hal yang bersifat politis dan hak-hak warga Negara sudah bagian milik dari para penguasa atau mereka yang merasa punya kuasa atas orang-orang lemah tersebut.

Bertindak secara bijaksana dalam hikmat Salomo dapat dirumuskan secara sederhana sebagai berikut: pertama, janganlah memandang atau menilai seseorang berdasarkan statusnya. Apabila seseorang itu miskin, maka janganlah serta merta kemiskinannya itu dijadikan sebagai alasan untuk dipermainkan atau diperolok-olokan harga dirinya. Dalam hikmatnya, Salomo melihat bahwa ini merupakan tindakan yang sungguh-sungguh tidak bijaksana. Dengan melanggar hak-hak orang miskin hanya karena statusnya, justru menempatkan orang miskin tadi pada derajad yang mulia karena Tuhan berkenan untuk campur tangan dalam perkaranya.

Kedua, jangan memutarbalikan kebenaran dan keadilan. Pengadilan dalam konteks Israel di zaman Perjanjian Lama tidak dilaksanakan di dalam sebuah gedung pengadilan seperti sekarang ini, namun dilaksanakan di depan pintu gerbang kota. Apabila ada perkara yang hendak diputuskan, maka tua-tua kota akan dihadirkan menjadi saksi di gerbang kota untuk memberikan penilaian atau keputusan. Bandingkan dengan kisah perkara antara Boas dan saudaranya dalam memperebutkan hak waris atas milik Naomi.

Pengadilan adalah lembaga tertinggi dalam memutuskan kebenaran dan keadilan, hanya saja dalam konteks ini ternyata pengadilan telah menjadi lembaga yang korup yang memperkosa hak-hak orang-orang lemah.
Dalam hikmatnya, Salomo melihat bahwa pelanggaran terhadap dua kebijakan tadi merupakan tindakan yang sangat-sangat tidak bijaksana. Bukan hanya karena melanggar hak-hak oran-orang miskin dan lemah, tetapi terlebih merupakan sebuah pengingkaran terhadap kedaulatan Allah, sekaligus sebagai perwujudan tidak adanya lagi rasa takut akan Tuhan. Jelas apabila ini dikaitkan dengan takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan, maka orang-orang yang merampas hak orang miskin dan lemah adalah perwujudan tindakan tanpa pengetahuan atau tidak bijaksana.

Lebih dari pada itu, Allah adalah pribadi yang adil dan benar. Ia memegang teguh kebenaran dan keadilan sebagai bagian dari hakekat-Nya. Sifat-Nya ini nyata jelas dalam tindakan-Nya yang melindungi dan menjamin hak-hak orang lemah dan miskin. Bukan hanya adil dan benar, namun Allah juga akan dengan bersegera membalaskan hak-hak orang-orang yang tertindas tadi dengan menyatakan hukum-Nya yang adil dan benar.

Perenungan ini menjadi refleksi khusus bagi kita ditengah-tengah hidup berbangsa dan bernegara. Sebagai warga gereja, maka perwujudan ketaatan kita kepada Tuhan seharusnya sebanding atau sama dengan pelaksanaan hidup dalam keadilan dan kebenaran dalam konteks berbangsa dan bernegara. Artinya pada satu sisi kita mengakui bahwa Allah adalah absolud dalam hukum-hukum-Nya, sungguh terbukti superioritas dari keadilan dan kebenaran-Nya, sehingga kita hidup dalam kebergantungan mutlak atas jaminan tersebut. Ini membuat kita mampu untuk hidup dalam realita perjuangan hidup yang semakin berat; namun, dipihak lain kita juga dituntut untuk menunjukan dan memelihara nilai-nilai kristiani dalam hidup kita yaitu dengan tidak memandang atau menilai seseorang berdasarkan statusnya serta tidak memutarbalikan kebenaran dan keadilan. Tuhan kiranya menolong kita untuk menjadi warga gereja sekaligus warga Negara yang baik, dan mewujudkan rumusan-rumusan nilai kristiani dalam hidup setiap hati, Amin.

Sumber: Alkitab kegemaranku

Post a comment